Jumat, 05 November 2010

makalah usaha catering




BAB I
                                      PENDAHULUAN

Untuk meningkatkan keuntungan bagi perusahaan, setiap organisasi bisnis harus berusaha melakukan perubahan terhadap efektivitas dan efisiensi kegiatan usahanya.  Prinsip utama dari bisnis adalah bagaimana meningkatkan profit, meminimalkan biaya serta produk perusahaan menjadi unggul dan dapat diterima oleh pasar secara luas. Semakin lama tuntutan pelanggan terhadap kualitas produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan semakin tinggi dan beragam. Oleh karena itu kegiatan efisien dan efektifitas yang dilakukan tidak hanya berupa perbaikan yang bersifat financial, tetapi lebih jauh mengembangkan agar lebih unggul di dalam pasar.

BAB II
                                     LANDASAN TEORI
Bisnis usaha catering semakin bertambah dari waktu ke waktu. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini menjanjikan keuntungan yang besar bagi para pelakunya. Meningkatnya usaha ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah adanya perubahan gaya hidup penduduk kota besar yang ingin lebih praktis sehingga menambah konsumen yang membutuhkan jasa catering. Perkembangan bisnis catering bukan hanya ditandai dengan peningkatan jumlah pemilik usahanya saja, melainkan adanya perubahan pada variasi olahan menu, desain penentuan dan fasilitas lainnya yang mulai tampak ada perubahan. Pada awalnya usaha catering hanya menyediakan makanan untuk acara pesta saja, tetapi pada saat ini usaha catering telah berkembang menyesuaikan kebutuhan masyarakat, misalnya catering rantangan untuk karyawan, catering rumah sakit dan masih banyak lagi. Meningkatnya jumlah pengusaha catering menimbulkan pesaingan ketat dalam menarik konsumen sebanyak-banyaknya.  Agar dapat menarik konsumen dalam jumlah besar, pengusaha catering harus menjaga kualitas rasa dan pelayanan yang memuaskan untuk konsumen, bahkan harga yang di tawarkan harus mampu bersaing. Mengingat semakin pintar konsumen dalam memilih jasa catering yang enak dengan harga relatif murah, maka pengusaha catering harus pandai dalam menghadapi persaingan yang cukup kuat. Oleh sebab itu pengusaha catering harus lebih kreatif dan lebih inovatif .





Bab III
Metodologi Penelitian
A.    Tempat dan Waktu Penelitian

1.      Tempat     : a. Kampus (J) Gunadarma Kalimalang
  b. Dirumah
  c. Diwarnet

2.     Waktu      :3 November 2010 – 5 November 2010

B.     Metode Penelitian

1.    Observasi.      
Observasi adalah penglihatan langsung ke tempat sasaran  yang dituju sehingga  hasilnya  lebih  teliti  dan  lebih mendekat kebenaran.
2.    Melalui Media Internet.
Mencari bahan materi tentang usaha catering melalui internet dengan cara membuka situs www.google.com



BAB IV
PEMBAHASAN

A.  IDE BISNIS USAHA CATERING
Bisnis catering sepertinya tidak mengenal kata bangkrut karena selalu saja banyak yang mencari. Adapun catering merupakan usaha makanan yang bisa dipanggil pada berbagai acara antara lain pesta perkawinan, seminar, ulang tahun dan lain sebagainya. Kegiatan yang disebutkan tentunya menyiapkan makana dalam jumlah tertentu. Bisnis catering akan semakin sukses bila memperhatikan kebutuhan konsumen, menampilkan makanan yang bersih (hieginis) dan tentunya bila kita mampu memuaskan konsumen dengan aneka rasa makanan yang ditawarkan oleh catering. Usaha catering sebetulnya merupakan usaha yang tidak bisa dikerjakan sendiri dan bila anda ingin memulainya, anda harus menyiapkan staff yang cukup banyak antara lain untuk memasak, transportasi bahkan ada yang merangkap dekorasi.setelah menentukan jenis makanan, anda perlu menyiapkan tenaga kerja yang handal.  Bisa saja anda merekrut pekerjaan sudah pengalaman namun tidak tertutup kemungkinan anda juga merekrut tenga kerja yang belum berpengalaman. Saya kira penilaian utama dari perekrutan adalah, tenaga kerja yang bersangkutan haruslah rajin dan jujur dan juga dapat anda kendalikan. Berikanlah mereka kontrak kerja yang jelas sehingga mereka betah bekerja pada anda. Biasanya pekerja yang lulusan dari Sekolah Kuliner lebih terampil dibandingkan dengan pekerja yang tidak mempunyai latar belakang dibidang Kuliner. Peralatan dan Mesin Industri Makanan juga berpengaruh terhadap kecepatan, penghematan biaya, dan Hasil Akhir yang Memuaskan. Dengan melengkapi usaha catering Anda dengan peralatan dan mesin industri makanan yang sesuai dengan kebutuhan, akan membuat anda semakin mudah meraih sukses berbisnis catering.


B.   LANGKAH-LANGKAH MEMBUKA USAHA CATERING
Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam memulai usaha Catering :

1.      Menentukan konsep  usaha catering yang akan dipilih ada beberapa macam usaha catering misalnya catering yang akan dipilih adalah catering untuk pesta , catering rantangan, atau catering menu khusus.
2.      Menentukan standar resep andalan catering pada catering anda masakan yang memiliki rasa enak merupakan syarat mutlak untuk usaha catering.
3.      Membuat perencanaan usaha
4.      Membuat menu atu daftar harga.
5.      Mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan usaha catering.
6.      Memulai catering.

C.   KEBUTUHAN POKOK USAHA CATERING
Ada beberapa keperluan dasar yang harus anda persiapkan. Diantaranya adalah :
1.      Tempat usaha
2.      Peralatan masak
3.      Peralatan makan
4.      Perlengkapan penunjang catering


D.  JENIS CATERING
Jenis catering dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.      Jasa catering pesta
Catering ini melayani pesanan makanan untuk acara tertentui dalam jumlah tertentu yang dihidangkan baik secara prasmanan maupun buffet ataupun piringan.
2.      Jasa catering rantangan
Melayani penyediaan berbagai menu dalam kemasan rantangan.
3.      Jasa catering perusahaan atau pabrik
Jasa catering yang disediakan untuk perusahaan atau pabrik. Bentuk pelayanannya dapat berupa rantangan atau prasmanan.
4.      Jasa catering transportasi
Jenis ini merupakan catering khusus untuk pelayanan perusahaan transportasi seperti pesawat, kereta api, kapal laut, maupun bus antar kota atau provinsi.
5.      Jasa catering rumah sakit
Catering ini khusus menyediakan makanan untuk pasien rumah sakit dalam pengolahannya catering ini harus diawasi ketat oleh ahli gizi yang direkomendasikan oleh pihak rumah sakit.
6.      Jasa catering khusus
Jenis catering khusus melayani konsumen tertentu seperti,  catering khusus vegetarian, catering khusus diet dan sebagainya.
7.      Jasa catering lauk rumah tangga
Banyak ibu yang bekerja yang tidak sempat memasak memilih catering untuk memenuhi kebutuhan makanan keluarganya.
8.      Jasa catering rapat dan seminar
Untuk rapat dan seminar biasanya membutuhkan snack dan makan berat juga, catering seperti ini anda harus aktif mencari koneksi dengan penyelenggara acara, penyewaan gedung atau instansi tertentu.

E.   MEMULAI USAHA CATERING
Dalam memulai usaha dibidang apapun, maka yang pertama kali harus diketahui adalah peluang pasar dan bagaimana menggaet order. Yang kedua adalah kita harus mampu menganalisa keunggulan dan kelemahan pesaing kita dan sejauh mana kemampuan kita untuk bersaing dengan mereka baik dari sisi harga, pelayanan maupun kualitas. Yang ketiga adalah mempersiapkan mental dan keberanian memulai. Lebih baik mencoba tetapi gagal daripada tidak sama sekali. Pengusaha catering harus mampu menerima resiko dari suatu masalah yang sedang dihadapi. Sebelum anda menginvestasikan uang anda untuk usaha catering ada baiknya anda menginvestasikan waktu anda untuk belajar mengenai bisnis yang ingin anda tekuni. Anda dapat belajar dari orang-orang yang telah sukses dalam menjalankan suatu usaha.

F.   SERTIFIKAT HALAL PADA USAHA CATERING
Tidak hanya produksi makanan dari pabrikan saja yang perlu menyertakan sertifikat halal pada kemasan produksinya tetapi untuk ikut masuk dan berkompetisi kedalam pasar yang komsumennya adalah mayoritas Muslim pengusaha catering perlu mempertimbangkan lebel HALAL, karena kenyataannya prosentase dari permintaan pasar tehadap hasil produksi harus menyertakan sertifikat HALAL maka seharusnya bagi usaha catering memiliki sertifikat tersebut. Negara Indonesia yang mayoritas adalah muslim, berarti memiliki sertifikat HALAL adalah keputusan yang tepat dan membuat sertifikat HALAL wajib bagi usaha catering yang pengusaha atau pemiliknyanya juga muslim, karena selain untung yang didapat nantinya juga pahala yang menjadi miliknya. Secara bisnis, usaha catering pasti lebih menguntungkan jika memiliki sertifikat HALAL.


                                         BAB V
                                  KESIMPULAN
           Usaha catering adalah salah satu usaha yang cocok bagi para wanita . khususnyayang memiliki keterampilan dan hobi memasak .usaha catering itu bermacam-macam. Tergantung tingkat kecocokan dan kemampuan menjalaninya saja dalam menentukan jenis usaha catering. walaupun usaha catering adalah salah satu jenis usaha yang tidak terlalu besar, namun untuk menjalankan usaha ini pun harus memperhatikan beberapa hal penting seperti diantaranya adalah adanya sertifikat halal.



DAFTAR PUSTAKA
Kursus Home Industry Tristar Di Royal Plaza
batikyogya.wordpress.com

Sabtu, 23 Oktober 2010

Sari, Ilmu Nenek Jadi Bekal Bisnis Distro

Beberapa kali gagal bisnis tak membuat Theresia Alit Widyasari  frustrasi. Akhirnya usaha distro jadi pembuka jalan. Beberapa usaha distro dan restoran yang ditangani wanita yang akrab dipanggil Sari ini, bersama dua kakaknya, menguasai kawasan Tebet Utara, Jakarta. Cita-citanya, ingin punya toko busana kelas dunia.

Kenapa memilih nama Bloop? Kedengaran sederhana dan lucu.
Tiba-tiba melintas saja dan karena gampang disebut. Bagi kami arti bloop seperti ketika sesuatu dimasukkan ke dalam air karena ada udara, kan suka bunyi “Blup, blup, blup,” jadi, ya, seperti harapan hidup.

Kabarnya, dulu sempat beli putus kaus dari clothing dan distro di Bandung?
Iya, sempat beli putus dari Cosmic, Ouval, dan Airplane (clothing asal Bandung). Namun untuk mengambil dari Bandung perlu perjuangan. Maklum belum ada Tol Cipularang. Waktu itu, kami juga baru mulai dan belum tahu bagaimana caranya membuat clothing line. Arti distro kan distribution outlet, untuk menitipkan dan mendistribusikan barang. Ya sudah, beli putus dulu.

Anda menjalani usaha ini bersama saudara?
Ya, bersama dua kakak saya yang memang suka bisnis. Sebelum ini, kami sempat bisnis tambak udang, jual daging, saham. Kami juga pernah jualan martabak di pinggir jalan. Pokoknya apa saja yang bisa menghasilkan uang. Nah, awal usaha distro ini karena ajakan teman. Kebetulan saat itu kan sedang booming. Semua orang kayaknya gaul banget kalau pakai kaus distro.

Setiap kali memulai bisnis, kami meminta bantuan Papa. Tapi, karena sudah berkali-kali gagal bisnis, kami enggak berani meminta bantuan Papa lagi. Jadi, sempat terpikir untuk mencari pinjaman dari orangtua teman. Kami dekati mereka agar mau berinvestasi, tapi tanggapannya, “Distro? Lima tahun lagi juga mati.”

Lantas?
Akhirnya kami ajak Papa ke Bandung, melihat bagaimana serunya industri distro di sana. Papa ternyata tertarik dan mengusulkan untuk pinjam ke bank atas namanya dengan jaminan kami akan melunasinya. Ya sudah, kami mengiyakan. Begitu cair, kami langsung bergerak mencari lokasi. September 2003, Bloop berdiri di Kalimalang, dengan pengunjung yang bisa dihitung jari. Terus pindah ke D’Jones (Tebet Utara) karena daerahnya strategis. Dulu sih hanya ada enam tempat usaha di sini. Sekarang kebalikannya, hanya ada enam rumah, sisanya tempat usaha ha-ha-ha.

Sekarang Bloop selalu penuh dan laris ya?
Sekarang jumlah pengunjung 1.000-1.500 per hari. Kalau akhir pekan, bisa sampai 2.500 orang. Waktu Lebaran, rekornya sampai 11.000 orang per hari. Jadi, orang harus masuk gantian. Isi Bloop memang sangat variatif, ada 200 merek. Kami ajak teman-teman mengisi. Mengenai kriteria, harus anak muda banget.

Sejak itu memutuskan untuk produksi sendiri?
Iya, karena banyak orang datang jadi kami berpikir keuntungan akan lebih besar kalau memproduksi sendiri. Ternyata produk kami disukai, mungkin karena promosinya juga. Produk kami dipakai oleh VJ MTV yang saat itu sedang naik, yaitu Nirina. Orang sering sekali datang ke toko dan mencari kaus yang dipakai Nirina.

Usaha keluarga ini kemudian berkembang pesat. Bloop mempunyai “saudara” yaitu Endorse yang tadinya adalah second line Bloop, Bloop AKA (supplier), dan Urbie (second line) lalu restoran Bebek Ginyo dan D’Jones yang menyediakan makanan cepat saji. Semua berada di lokasi yang berdekatan.

Sekarang Tebet Utara dipenuhi tempat usaha serupa. Sempat merasa takut?
Sempat stres dan takut juga. Karena, supplier besar di Bandung yang sudah menjadi klien kami ditawari menitipkan barang di tempat mereka sekaligus cabangnya. Kami memberanikan diri dengan memberikan pilihan: “Pilih salah satu, toko kami atau mereka”. Dalam hati sih sebenarnya deg-degan, ha-ha-ha.

(Kejadian) ini kami manfaatkan untuk lebih kreatif agar konsumen tetap setia dengan Bloop. Sekarang, justru makin seru, kami semakin mendukung satu sama lain. Mereka promosi, kami juga kena imbas hasilnya. Akhirnya senang, sih banyak yang menemani dan omzet semakin naik. Karena kalau orang ke Tebet Utara, pasti mampir ke sini.

Apa yang Anda lakukan agar Bloop bisa bertahan di tengah persaingan?
Kami ini anak-anak nekat. Awalnya sama sekali tidak punya latar belakang fashion. Lalu saya dikirim kakak untuk bersekolah di London, mengambil jurusan Fashion Marketing. Pulang dari sana, saya menyadari kalau kami hanya menjual kaus, celana, dan sandal, akan membosankan. Harus ada pembaruan.

Jadi, kami riset ke 300 orang, menanyakan apakah mereka tertarik kalau kami menjual dress, sepatu dan lain-lain. Hasilnya, mereka ingin baju yang lebih modis dan variatif. Responsnya bagus dan diteruskan hingga sekarang. Saya juga suka bertindak sebagai pembeli. Jadi, saya bawa tas dan keliling-keliling toko. Kan, pembeli suka komentar kalau membeli baju, jadi saya tahu mana yang disukai dan tidak.

Sejak mengikuti pelatihan bisnis, kami membuat perencanaan bisnis selama satu tahun. Kami juga sering memanjakan pelanggan dengan hadiah dan kejutan karena mereka memberikan rezeki pada Bloop. Salah satunya Wow Factor Strategy, misalnya: ketika mereka sedang berbelanja, kami berikan amplop isinya voucher sampai Rp 1,5 juta yang harus dihabiskan dalam lima menit. Semua orang langsung heboh dan mereka pasti bercerita kepada yang lain. Itu menjadi promosi juga kan?

Kabarnya, Anda juga mendorong dan memberikan ruang kreativitas untuk karyawan?
Iya, mereka mempunyai hak istimewa untuk membuat merek sendiri karena kami mengarahkan mereka untuk menjadi pengusaha. Sekarang, ada karyawan kami yang sudah mempunyai omzet jauh lebih besar dari gajinya karena clothing-nya sukses.

Seminggu sekali, kami rapat dan karyawan boleh berpendapat, namanya project brief. Kemarin ada ide untuk membuat kertas kado di toko karena banyak (konsumen) yang datang membeli barang untuk hadiah. Untuk setiap project brief yang dijalankan, mereka dapat bonus. Mereka kreatif sekali dan membanggakan.

Setelah sukses seperti ini, imbalan apa yang Anda berikan untuk diri sendiri?
Saya suka sekali travelling dan mimpi saya adalah keliling dunia. Tapi, itu kan butuh uang. Orangtua saya mengajarkan kalau mempunyai mimpi, tempel di dinding kamar. Foto Big Ben (jam raksasa di Inggris), Manchester United, dan masih banyak lagi, saya tempel sebagai motivasi. Sekarang, satu per satu yang saya tempelkan sudah tercapai dan bertambah lagi.

Saya pernah ke pertandingan Manchester United dan bertemu mereka langsung! Lalu nonton konser Take That, Spice Girls, Gwen Stephani, ke Yunani, bertemu Mischa Barton (aktris cantik kelahiran Inggris). Wah, pokoknya senang sekali. Sekarang, saya ingin sekali traveling ke Jepang.

Bagaimana pembagian tugas dengan kakak? Kabarnya Anda dekat dengan artis.
Jabatan saya di Bloop adalah Marketing Director dan menangani produk-produk perempuan. Kalau dibilang dekat dengan artis, ya benar juga sih. Misalnya, Seventeen, D’Massive, Okky Lukman, Sandra Dewi, Tora Sudiro, Donnie Ada Band. Pokoknya artis yang sedang disukai anak muda pasti kami sponsori. Waktu awal mendirikan Bloop, kami malah sering menghampiri mereka (artis) lalu memberikan kaus Bloop. Terserah sih mau dipakai atau tidak. Seringnya sih dipakai. Lumayan, kan promosi, gratis pula.

Kalau kakak pertama, Martin Sunu Susatyo, dia lebih konsentrasi dengan bidang kreatif Bloop. Misalnya, kalau toko mau diubah desainnya. Sementara kakak kedua, Bertolomeus Saksono Jati, tugasnya lebih ke pengembangan bisnis, keuangan, dan sumber daya manusia.

Soal pembagian keuntungan dan kepemilikan usaha ini?
Selama ini, pembagian keuntungan fair kok. Jujur, saya agak lupa persisnya, namun kalau tidak salah, keuntungan dibagi rata 25 persen, antara saya, kedua kakak, dan Papa. Sebenarnya, saya enggak pernah mikirin masalah keuntungan ini karena awalnya kan cuma ikut-ikutan. Mungkin, karena ini juga dan kami memang tahu porsi masing-masing, makanya meski ini perusahaan keluarga, kami enggak pernah bertengkar. Yang jelas, kalau misalnya saya kerja keras sampai gila-gilaan, pasti dikasih bonus tambahan.

Kalau sudah menikah, kami ingin mempunyai toko masing-masing yang lebih besar dengan nama Bloop. Pokoknya, kami ingin membuat Bloop seperti Topshop di Inggris atau Zara di Spanyol yang terkenal di seluruh dunia. Begitu orang mendengar nama Bloop, mereka tahu itu berasal dari Indonesia, ya menjadi toko yang bisa dibanggakan oleh Indonesia dan menjadi trendsetter. Tentunya, tetap berjalan dengan konsep Bloop yaitu diisi produk karya anak bangsa sendiri.

Enggak tertarik kerja kantoran seperti ayah Anda?
Kalau Martin, kayaknya memang tidak tertarik karena dia orang kreatif yang tidak bisa bekerja di bawah orang lain. Sementara Berto, dia sempat tertarik. Kalau saya, dulu waktu di Inggris sempat bekerja di River Island (merek clothing) dan sampai sekarang tertarik sekali bekerja kantoran asal yang waktunya fleksibel. Seperti reporter atau fashion buyer yang memungkinkan untuk bertemu artis dan keliling dunia, seperti mimpi saya. Enak kan? Keliling dunia, dibayarin pula ha-ha-ha.

Sebenarnya siapa sih yang mengajari Anda berbisnis?
Kalau bisnis, Papa lebih banyak mendorong kami. Pengalamannya sebagai karyawan kan memperlihatkan kalau gaji pegawai sampai pensiun itu bisa diramalkan. Makanya, dia sering sekali mendorong kami, kalau ingin menjadi pegawai harus mempunyai bisnis sampingan lain. Sementara mama, awalnya sempat khawatir kami terjun bisnis sendiri, apalagi awalnya sering gagal.

Bicara mengenai bakat, mungkin nenek yang menurunkan kemampuan ini. Nenek saya buta huruf tapi dia telaten sekali berdagang. Dulu, dia berjualan stagen yang dipanggul sendiri, beratnya sampai berkilo-kilo. Oh ya, meskipun dia buta huruf, dia bisa ingat di luar kepala siapa yang membeli, siapa yang punya utang. Perjuangan nenek memang hebat sekali, pokoknya dia tangguh dan bisa menyekolahkan semua anaknya hingga menjadi sarjana.
Sumber : Kompas.com

bisnis kotak kado

Melihat kotak kado yang beredar di pasaran membuat Belleza Indrawan "gemas". Menurutnya, kertas yang digunakan sebagai bahan dasarnya tidak kokoh dan desainnya kurang menarik. Wanita kelahiran tahun 1973 ini lalu mencoba membuatnya sendiri, dengan kertas yang diproduksi kakak iparnya. Sejak itulah ia yakin dan berniat berbisnis di bidang ini.

Berbekal ketrampilannya berkreasi dan kertas berwarna menarik serta kokoh, ia lalu berusaha menawarkan kotak kado buatannya ke sebuah galeri di Kemang. Hasilnya, ia mendapat pesanan 200 kotak sekaligus. "Waktu itu, semuanya masih saya kerjakan sendiri, sampai saya terbungkuk-bungkuk mengerjakannya," tutur Belleza sambil tersenyum, mengenang momen akhir 1997 itu.

Untuk melebarkan sayap, ibu dua anak ini juga menawarkan kotak kadonya ke departement store, dan sejak itu kotak buatannya dijual pula di beberapa pertokoan itu, antara lain Metro. Banyaknya peminat kotak kado ini membuat Belleza banyak menerima pesanan dari luar kota, termasuk Semarang, Surabaya, dan sebagainya.

Tak hanya itu. Permintaan mengajar untuk pembuatan kotak kado berdatangan dari berbagai kota di Indonesia, antara lain Medan, Surabaya, dan Semarang. Namun, kesibukannya memenuhi pesanan pelanggan ditambah tenaga kerja yang masih sedikit membuatnya belum bisa memenuhi permintaan itu. "Saya sampai berkali-kali dibilang pelit, enggak mau membagi ilmu. Saya seperti artis, dapat surat dari penggemar hampir tiap hari, banyak banget, di antaranya ya, 'surat cinta' itu," ujarnya sambil tertawa.

Setelah akhirnya bisa mendelegasikan sebagian pekerjaannya, sarjana ekonomi ini punya waktu luang dan melayani permintaan mengajar. Awalnya, ia mengajari anak-anak di sebuah SD swasta di Jakarta. Dari situ Belleza melihat, ternyata anak-anak SD sudah jenuh mempelajari ketrampilan yang selama ini diajarkan di sekolah. Lalu, ia juga mengajari perkumpulan ibu-ibu AURI di Halim Perdana Kusuma. "Saya juga mengajari polwan-polwan di beberapa Polres. Lucu juga, tangan mereka yang biasanya pegang senjata jadi pegang pita, kelihatan kaku."

Istri dari Yusca Indrawan ini juga pernah mengajari ibu-ibu rumahtangga di Pati, Jawa Tengah. "Sebenarnya, tidak sedikit ibu rumahtangga yang ikut suaminya bertugas di daerah, ingin punya kegiatan tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nah, belajar menghias wadah untuk hantaran ternyata sangat bermanfaat bagi mereka. Saya senang bisa membantu, apalagi ternyata hal ini bisa menghasilkan uang bagi mereka," ujar Belleza yang sudah menerbitkan buku pertamanya tahun 2006, Kreasi Wadah Hadiah.

Materi kursus yang diberikan Belleza memang berkembang, tak hanya cara membuat kotak kado, melainkan juga berkreasi menghias wadah. "Wadah yang dihias bisa apa saja yang ada di rumah, tidak harus kotak kado. Keranjang atau loyang juga bisa jadi wadah cantik untuk hantaran, dan tidak memakan biaya mahal. Inilah yang membuat ibu-ibu peserta kursus menyukainya," ujar Belleza yang untuk Lebaran mendatang, mendapat pesanan kotak kado dari Kuala Lumpur beberapa ribu buah.

Sumber : kompas.com

Bisnis Kek Pisang Villa

Dengan menyandang gelar Sarjana Teknik di pertengahan tahun 2003 dari sebuah Universitas Negeri di Sumatra ternyata tidak membuat segalanya menjadi mudah. Saya bukanlah dari keluarga yang berada, sehingga untuk memperoleh impian saya  harus benar-benar bangun dengan jerih payah sendiri. Berbekal ijazah, saya yakin bisa menjadi harapan untuk orang tua dan keluarga. Akan tetapi nyatanya tidak. Gaji pertama yang saya peroleh hanya Rp.1.200.000,-. Setelah ditambah ini itu selama 3 tahun hanya tertambah dua kalinya, tapi harus mengorbankan seluruh waktu. Dalam benak, khayalan menjadi tumpuan keluarga tak mungkin terpenuhi kalau hanya menjalankan kehidupan seperti ini.

Dalam proses pembelajaran muncul ide-ide bisnis. Ketika bulan-bulan pertama menikah di tahun 2004 saya mencoba membuat usaha rumahan dengan modal kado hadiah kawinan yaitu kompor minyak tanah. Istri saya menggoreng kerupuk yang dibeli di pasar, dan dikemas sederhana kemudian saya distribusikan ke warung-warung sekitar juga rumah  makan. Lumayan, tapi capek. Karena dikerjakan sendiri. Ketika timbul ide untuk memperkerjakan saudara untuk membantu usaha, ternyata tidak ada yang bersedia. Akhirnya usaha pertama yang saya bangun tutup dengan sempurna. Tapi herannya tak ada kata gagal bagi saya..Muncul ide baru.
Karena lumayan suka mencoba resep kue, akhirnya muncul ide untuk memasarkan produk sederhana jajanan pasar ke kantin-kantin PT di Mukakuning. Diawali dari tempat kerja saya bekerja. Berjalan sempurna, tapi tetap saja capek karena hanya dikerjakan sendiri. Dalam masa pencarian saya menemukan sebuah buku yang cukup memukau. Rich Dad Poor Dad, benar-benar membuat saya lebih berani mengambil resiko. Sedikit pinjaman dari koperasi membuat saya mempunyai rumah makan kecil-kecilan di komplek perumahan tempat saya tinggal. Tapi hanya berusia dua bulan saja, karena saya memang tidak punya pengalaman di bidang itu, ditambah sudah ada saingan sehingga sulit untuk bersaing. Ketika itu saya mempunyai tiga karyawan dan satu koki. Untuk mengurangi kerugian, saya menjual sebagian harta peninggalan rumah makan. Cukup menyakitkan. Inilah kali pertama saya mengalami kerugian yang cukup besar untuk ukuran saya, 8 juta rupiah. Namun tak cukup sampai disitu. Saya yakin bahwa suatu saat saya pasti bisa menjadi seperti yang saya harapkan. Yaitu punya usaha dan bisa membantu orang sekitar terutama keluarga.

Saya menemukan ide baru lagi yang lebih fresh dan gila. Ini diilhami ketika saya membeli CD seminar motivasi melalui internet. Event Organizer. Itu muncul begitu saja. Saya berusaha mencaritahu apa EO sebenarnya melalui buku-buku dan internet. Saya ingin mendatangkan seorang motivator yang dikemas menjadi seminar yang eksklusif dan menarik. Melalui informasi beberapa teman, mereka merekomendasikan nama Jaya Setiabudi. Dengan cepat proposal seminar bersama Pak Jaya saya selesaikan. Itulah awal saya berkenalan dengan Pak Jaya. Diluar dugaan ternyata Pak Jaya sudah begitu seringnya memberikan seminar diwilayah Mukakuning. Namun  beliau menyarankan untuk memanggil Bob Sadino, pengusaha gaek yang tersohor itu. Dengan cepat no. telp Om Bob didapat. Dan saya langsung menghubungi beliau. Tapi dengan alasan kondisi yang tidak mengijinkan untuk bepergian keluar kota, maka saya mengundang Made Ngurah Bagiana pengusaha burger yang tumbuh dari bawah. Tapi tak cukup sampai disitu, saya menambah tantangan dengan mengundang Helmi Yahya sebagai pembicara utama. Tapi kenyataannya peserta tidak seperti yang saya harapkan. Saat itu saya mengalami kerugian yang sangat sangat besar untuk ukuran saya.

Lagi-lagi tak menyurutkan niat saya untuk berusaha. Malah kini saya benar-benar ingin fokus di bisnis, karena pada akhirnya saya berenti bekerja. Saya memang harus memutar otak agar bisa melanjutkan impian dan hidup. Ditambah saya telah punya bayi kecil. Akhirnya dalam rangka memperingati hari anak Indonesia saya mengangkat acara di salah satu Mall terkemuka di Batam. Dengan tema Ceria Anak Indonesia, saya menggandeng merk susu formula ternama sebagai co.partner. Dengan dasar bahwa susu formula tersebut mempunyai layanan customer care setiap bulannya, maka saya memanfaatkan itu sebagai sarana promosi saya yang paling efektif. Tanpa saya duga antusias ibu-ibu terhadap acara saya sangat besar, akhirnya ini awal pencerahan bagi saya. Ini usaha saya yang mendatangkan cukup banyak rupiah. Tawaran mengisi acara serupa selama beberapa waktu sempat menghampiri ada yang menguntungkan dan ada juga yang sepi peserta.

Muncul lagi ide berikutnya, terlahir karena saya selalu haus untuk menimba ilmu di bidang kewirausahaan akhirnya dengan bakat saya yang suka cuap-cuap di hadapan teman-teman di PT, saya memberanikan membuka entrepreneur course. Dengan biaya seadanya dan pinjaman ruko dari teman, usaha ini berjalan 3 bulan dengan coach saya sendiri. Ketika itu ide awal bisnis Kek pisang sudah muncul. Pemasaran masih di sekitar rumah saja. Karena antusias dari tetangga lumayan OK, saya memberanikan untuk memperluas pasar ke daerah Mukakuning. Dengan konsep kemitraan, produk saya bisa dinikmati pekerja di Mukakuning. Berjalan dengan waktu saya mulai merasakan prospek bisnis saya kali ini cukup bagus. Untuk itu sampai sekarang saya tetap focus pada bisnis Kek Pisang ini .

Awalnya dengan peralatan yang sangat sederhana saya dan istri memproduksi kek pisang ini . Dengan resep original saya yakin kek pisang ini bisa menjadi makanan yang banyak diminati berbagai lapisan masyarakat dan usia.Ternyata benar awalnya saya dan istri hanya memproduksi 3 loyang sehari dengan pemasaran  ke tetangga dan warung sekitar rumah. Dengan system kemitraan kek pisang saya melaju bak roket di kawasan Batamindo. Mulai dengan produksi dengan kapasitas oven yang sangat minim akhirnya saya bisa membeli oven yang bisa memuat 20 loyang ukuran 30x 10 cm setiap sekali pembakaran. Saya merekrut 1 orang karyawan untuk membantu produksi disamping saya sendiri juga turut bekerja, tapi karena permintaan cukup ramai akhirnya saya memutuskan untuk menambah 2 orang karyawan lagi dalam hitungan waktu 2 minggu. Semua dikerjakan di dalam rumah tempat tinggal saya yang bertipe 36. Enam bulan saya harus berbagi dengan tempat usaha, akhirnya dengan sedikit keuntungan dan pinjaman dari Bank, saya menyewa sebuah Ruko. Saat di ruko karyawan saya berjumlah 7 orang. Sistem kemitraan ini muncul dengan harapan pemasaran dari mulut ke mulut lebih efektif, sehingga mitra selalu berpromosi di lingkungan kerjanya dan sekitarnya. Saya memberikan fee Rp3000,- per kotaknya. Dalam waktu 6 bulan mitra saya mencapai 300 orang dengan wilayah kerja meliputi Batamindo, Tanjung Uncang, kawasan industri di Batam Centre. Selain itu saya juga menyiapkan bonus-bonus menarik apabila mitra berhasil mencapai target yaitu berupa uang tunai Rp.100rb untuk setiap penjualan 100 kotak. Hal ini dengan maksud supaya mitra terus giat mempromosikan produk saya, selain menambah pendapatan mitra tentunya.

Namun setelah berjalan setahun sistem kemitraan agak menurun ditambah bahan baku produksi meningkat tajam, akhirnya saya terpaksa melakukan revisi harga kek pisang. Dan ini tidak menguntungkan di pihak mitra, karena harga susah terjangkau dikalangan pekerja PT. Saya pun memutar otak bagaimana agar karyawan saya bisa tetap bekerja dan mendapat upah yang layak. Akhirnya terilham dari Batam yang tidak mempunyai Oleh-Oleh atau buah tangan. Saya mencoba menembus pasar dan memposisikan kek pisang saya sebagai buah tangan atau oleh-oleh yang harus dicari masyarakat yang ingin keluar kota. Bika ambon yang dari medan awalnya bukan makanan asli Medan, tapi karena dengan pembelajaran yang sempurna bika Ambon berhasil merebut hati wisatawan yang berkunjung ke Medan. Bika Ambon- nya Medan berhasil mengedukasi pasar, kenapa saya tidak..???

Saya mulai mempromosikan Kek Pisang saya sebagai sesuatu yang harus dibawa ketika meninggalkan Batam. Dengan Billboad, promosi di media, dll diharapkan produk saya bisa dikenal luas khususnya bagi masyarakat yang ingin meninggalkan kota Batam. Dengan perubahan misi ini, akhirnya produksi kek pisang saya kembali bergairah. Saya menambah 3 orang karyawan lagi untuk system delivery.

Melihat peluang yang cukup bagus, dan keunikan produk ini, saya memberanikan diri untuk membuka 3 cabang lagi di daerah Batam Centre, Nagoya, dan Penuin. Semua ini dengan bantuan dari pihak Bank yang telah mulai percaya kepada saya. Tantangan dan resiko yang saya ambil semakin besar. 3 outlet baru bisa saya buka dalam waktu 3 bulan. Belum genap sebulan sambutan pasar sangatlah bagus, untuk ukuran toko yang baru buka. Saya terus belajar melalui buku-buku dan media internet agar misi saya bisa diterima masyarakat. Hingga saat ini saya telah memiliki 6 outlet dan 85 karyawan. Saya optimis impian saya menjadi tumpuan hidup keluarga bisa terwujud. Karena sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin jika kita menggantungkan impian dan proses pembelajaran yang tak kenal lelah, semua yang kita impikan akan datang dihadapan kita. Di usia saya yang masih muda, 30 tahun saya yakin oleh-oleh khas Batam kek pisang Villa bisa melesat bak roket di Batam khususnya dan di Indonesia umumnya.Amiin?

sumber: http://wirausahamandiri.co.id/kisah-Denny%20Delyandri%20Kek%20Pisang%20Villa-48.html

bisnis desain

Tentu sebagian besar dari Anda pernah mendengar nama kaus bermerk C59. Kesuksesan C59 tidak lepas dari kepiawaian penggagasnya, Marius Widyarto atau yang akrab dipanggil Mas Wiwied. Bermula dari rasa gusarnya melihat teman-temannya yang memamerkan kaos bergambar kota mancanegara buah tangan dari orang tuanya usai bepergian dari luar negeri, Wiwied kemudian tertantang untuk membuat sendiri kaus bergambar patung Liberty dan kota New York dan sesumbar bahwa omnya juga baru datang dari luar negeri,sejak saat itulah ia semakin dikenal sebagai orang yang piawai membuat kaus, sampai-sampai, ketika ia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, ia lebih sering didatangi orang untuk urusan pesanan kaus daripada untuk pekerjaannya.

Wiwied yang sejak kecil menyukai pekerjaan prakarya memulai usahanya dari rumahnya yang berukuran 60 m2 di Gang Caladi 59, yang akhirnya menjadi nama merk kausnya dengan modal awal dari hasil penjualan kado pernikahannya dengan Maria Goreti Murniati. Mental entrepreneur Wiwied banyak ditempa ketika ia ikut seorang pengusaha keturunan di Bandung yang memperlakukannya secara keras.Pada awalnya Wiwied menjalankan usahanya dari order kanan kiri, ia juga ikut mendesain,memilih bahan, memotong,menjahit, menyablon sampai finishing disamping juga mencari order.


Usahanya meningkat ketika mendapatkan order dari Nichimen-perusahaan Jepang yang bergerak di bidang pestisida, kaus itu untuk dibagi-bagikan ke para petani.
Usahanya semakin terasa meningkat setelah mengikuti kegiatan Air Show 1986 di Jakarta yang diikuti pula oleh para peserta dari mancanegara.

Wiwied kemudian juga merambah bidang retail yang bermula dari menjual sisa order yang tidak memenuhi syarat yang ternyata juga diminati orang. Setelah usahanya meningkat, pada tahun 1992, ia kemudian pindah ke Jalan Tikukur no.10 yang kemudian memborong rumah di sekitarnya yakni no.4,7,8,9 yang kemudian ia jadikan kantor dan showroom produknya. Selain itu ia juga membuka showroom di daerah lain,seperti Balikpapan, Bali,Yogya dan kota lain sehingga kini ia memiliki sekitar 600 outlet di Indonesia dengan mempekerjakan sekitar 4000 karyawan.


Di mancanegara,Wiwied memiliki 60 showroom yang tersebar di Slowakia,Polandia, dan Czech dan bahkan kini ia juga sudah merambah jaringan Metro Dept.Store di Singapura. Keberhasilannya menembus mancanegara bermula dari beberapa stafnya yang bersekolah di luarnegeri yang biasanya membawa satu dua koper kaus C59 dan dijual pelan-pelan di sana, kemudian diadakan survey yang tenyata pasar di sana menguntungkan karena memiliki empat musim, sehingga tidak hanya bisa menjual t-shirt namun juga sweater atau jaket.


Wiwied juga memiliki sebuah pabrik di atas tanah seluas 4000m2 di daerah Cigadung, Bandung. Pabrik ini dibangun setelah mendapatkan kredit dari Robbie Djohan yang saat itu menjabat Dirut Bank Niaga pada tahun1993, ketika itu Bank Niaga memesan t-shirt ke C59. Di tahun yang sama pula ia mengubah bentuk usahanya menjadi PT. Caladi Lima Sembilan.
Keberhasilan Wiwied dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang telah ia terima, diantaranya Upakarti 1996, ASEAN Development Executive Award 2000-2001,Dan pemenang I Enterprise 50.


Filosofi bisnis Wiwied sendiri terinspirasi dari burung Caladi yang berasal dari bahasa Sunda yang berarti burung pelatuk. Wiwied mengartikan Caladi sebagai 5 citra dan 9 cita-cita, lima citra itu menggambarkan karakter sumberdaya manusia yang dimiliki C59 yakni, cakap, cerdik, cermat, cepat, dan ceria.Sedangkan 9 cita-citanya adalah customersatisfaction, company profit, confident working atmosphere, control, collaboration, clear mind, creativity, dan consultative. Wiwied juga ingin seperti burung pelatuk Woody Woodpecker yang tidak mau kalah dari pesaingnya, dan bila kita perhatikan burung pelatuk selalu fokus ketika mematuk pohon, Wiwied pun ingin selalu fokus di bidang garmen.


Salah satu kunci sukses Wiwied juga terletak pada penggalian ide desain yang tidak pernah berakhir, baginya riset desain sangatlah penting karena kekuatan produknya ada pada rancangan,apalagi industri t-shirt cepat berganti tren. Karyawannya pun mendapat kesempatan jalan-jalan untuk mencari ide-ide segar, bahkan ia membiarkan karyawannya untuk tidak masuk asalkan ketika ia masuk ia sudah membawa ide bagus.
Setiap desain yang akan dikeluarkan harus dipresentasikan lebih dulu, kemudian setelah terpilih, baru dilanjutkan dengan prosesi produksi, pemilihan bahan,teknik cetak,warna, dan sebagainya.


Wiwied juga terlihat sangat piawai membangun networking, ia selalu berusaha membangun hubungan baik dengan supplier, support, customer, dan government. Ia sangat percaya bahwa relationship adalah kunci kesuksesan dari bisnis. Wiwied mengaku kalau dia merupakan biangnya koperasi,untuk itu ia juga mendirikan koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan karyawannya, omset koperasinya saat ini sekitar Rp 600 juta. Ia bangga karena telah dapat mewujudkan impiannya untuk membuka lapangan kerja bagi banyak orang.
Sumber : yukbisnis.com

Bisnis Kue Kering

Kue kering atau yang biasa dikenal dengan istilah cookies bisa dibilang bisnis yang tak pernah kering. Jenis kue ini sering menjadi primadona pada saat-saat hari raya keagamaan terutama lebaran. Karakter kue yang tahan lama hingga berbulan-bulan membuat kue kering selalu dicari orang.

Kisah sukses berbisnis kue kering dialami oleh Dedi Hidayat dan istrinya Diah Susilawati, dengan bermodal Rp 2 juta pada saat memulai bisnis di tahun 1996 lalu, kini dua orang ini menjadi pengusaha sukses dengan omset hingga Rp 15 miliar per tahun.

Melalui bendera J & C yang merupakan kependekan kata dari 2 nama putra-putrinya yaitu Jody dan Cindy (J & C), Dedi dan Diah meretas bisnis kue kering atau jenis roombutter.

Kisah awalnya, Dedi menuturkan kepiawaian sang istri yang pintar membuat kue menjadi titik cerah usahanya, meskipun dia mengakui keterampilan sang istri tidak muncul begitu saja, melainkan muncul setelah rajin mengikuti kursus dan rajin melakukan eksperimen membuat kue.

"Waktu krismon 1997 lalu jenis-jenis roti kurang diminati, saya melihat ada peluang di kue kering," kata Dedi saat ditemui di pabriknya Bandung akhir pekan lalu.

Hingga sampai saat ini setidaknya ia telah mampu membuat 54 jenis Kue kering roombutter yang telah dipasarkan di dalam negeri maupun di ekspor ke Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

"Produk kita sudah masuk ke Singapura, sejak setahun lalu karena ikut pameran," ucapnya.

Dibantu oleh kurang lebih 400 karyawannya bisnisnya semakin menggeliat terutama memasuki bulan-bulan puasa dan lebaran. Bahkan ia memperkirakan bisnisnya pada tahun ini akan mengalami kenaikan hingga 35% dari tahun sebelumnya.

Untuk menghadapi lebaran tahun ini saja, ia mengatakan modal kerja yang diperlukan mencapai Rp 8 miliar, khusus untuk memenuhi pasokan Bandung dan Jakarta, sehingga ia memperkirakan omset per tahunnya mencapai sekitar Rp13-15 miliar.

Dikatakannya tantangan bisnisnya sampai sekarang ini adalah masalah pengemasan atau packaging, khususnya untuk kue kering yang akan diekspor ke luar negeri. Pengemasan sangat penting dalam menjaga kualitas produknya.

Sementara itu Jodi Janitra, salah seorang putra Dedi mengatakan tantangan bisnis kedua orang tuanya kedepan antara lain mengembangkan usaha ini menjadi waralaba meski untuk mencapainya tidak lah mudah terutama dalam menjaga kualitas adonan kue kering dan kualitas kontrol.

Saat ini saja, lanjut Jodi, permintaan Kue kering J & C sangat tinggi khususnya memasuki masa lebaran yang bisa mencapai 4000 toples per hari sedangkan kalau hari biasa hanya mencapai 100-200 toples per hari.

Tawarkan Keagenan J & C

Meski belum masuk dalam status usaha waralaba, J & C tawarkan konsep keangenan sebagai distribusi produk-produk J & C. Dimana para calon agen terbagi menjadi dua yaitu agen biasa dan agen khusus.

Menurut Dedi, sampai saat ini J & C telah mengantongi 7 keagenan khusus diantaranya 1 di Batam dan 6 agen di Jakarta, sedangkan untuk agen biasa sudah mencapai 1000 lebih yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Kalau mau jadi agen biasa itu minimal pembelain 30 lusin (toples) atau Rp 13 juta, untuk agen khusus Rp 400 juta sebanyak 1000 lusin," imbuhnya.

sumber:detikfinance.com